RI-64
Custom Search

Porong - Sidoarjo, dimataku

Friday, January 16, 2009

Porong – Sidoarjo, dimataku.

Kota kecil yang aku kenal sebagai kota industri kerajinan kulit semacam tas, dompet, sepatu, sandal dan lain – lain.
Yang waktu aku kecil juga sering di pakai sebagai tempat olok – olokan sama teman – teman karena disana terdapat sebuah RS Jiwa.
Tidak banyak berita yang aku dengar tentang kota ini sebelum kota ini terendam Lumpur.
Mungkin juga kota ini tidak akan banyak dikenal orang apabila Lumpur masih tetap berada didalam perut bumi.
Kecuali yang aku kenal tentang adanya industri garment dan sepatu karena sebagian teman – temanku yang bekerja pada industri tersebut.

Dulu.. sebelum tragedi itu terjadi, aku bisa melihat sawah – sawah dan pohon – pohon rindang menghijau di sepanjang jalan tol Gempol – Surabaya dan sebaliknya.
Bahkan, ketika penat menyergap setelah hampir 2 jam berkendara dari Probolinggo, aku biasanya berhenti sejenak hanya untuk menghilangkan kantuk sembari melihat hijaunya pepohonan disekitar pinggir jalan tol.

Tapi itu dulu, 3 tahun yang lalu sebelum Lumpur hitam pekat merendam jalan tol dan bahkan ribuan rumah, sawah, sekolah – sekolah dan sebagainya yang menghilangkan jutaan harta benda penduduk sekitar kawasan PT. Lapindo Brantas, menghilangkan dan merendam mata pencaharian penduduk sekitarnya dan bahkan, pemandangan hijau yang menyegarkan itupun telah sirna.
Kalau teman – teman naik keatas tanggul penahan dipinggir jalan raya Porong, akan terlihat danau Lumpur yang luas, yang berbekas hanyalah sisa – sisa atap rumah dan bangunan menyembul dipermukaan Lumpur.
Sekarang yang terlihat hanyalah pemandangan tandus, kering dan panas bercampur bau menyengat menyesakkan.
Dan sekarang, tanggul – tanggul penahan Lumpur disepanjang jalan, telah jadi “obyek wisata”, banyak pengunjung yang datang untuk melihat genangan Lumpur dengan menaiki tanggul penahan Lumpur itu.

Pohon – pohon disepanjang jalan juga kering meranggas menggambarkan kesedihan dan kekeringan warga Porong dan sekitarnya.
Truk – truk besar pengangkut pasir dan tanah hilir mudik disekitar Jalan Raya Porong, alat – alat berat juga sibuk mengaduk – aduk tanah untuk meninggikan dan menguatkan
tanggul – tanggul penahan Lumpur.
Itulah gambaran situasi Porong saat ini. Ditambah lagi dengan kemacetan luar biasa yang kerap terjadi setiap hari di sepanjang Jalan Raya Porong, dari pintu tol Porong sampai dengan putaran Apollo di Gempol sampai ber jam – jam dan juga arah sebaliknya.

Di tiap ujung jalan disekitar Porong, banyak tukang ojek menawarkan jasa bagi penumpang bis atau angkutan umum yang buru – buru untuk sampai di tempat tujuan agar terhindar dari kemacetan yang luar biasa.
Pun bermunculan orang – orang yang menawarkan jasa penunjuk jalan bagi para pengendara mobil untuk melewati jalan – jalan pintas bebas macet, yang tentunya dengan imbalan yang telah mereka sepakati.

Kemacetan ditimbulkan karena jalan raya Porong yang sempit dan juga dibeberapa bagian yang telah rusak berlubang digenangi air.
Harus berpikir berkali – kali untuk melakukan perjalanan dari arah Probolinggo – Surabaya atau Malang – Surabaya ataupun arah sebaliknya, karena akan menempuh sekitar 4 jam perjalanan, yang biasanya hanya bisa ditempuh dengan waktu 2 – 3 jam saja.
Fenomena baru sekarang terjadi, kebanyakan para karyawan yang harus pulang balik setiap harinya Malang – Surabaya atau sebaliknya beralih dengan mengendarai motor untuk menghindari kemacetan. Biasanya motor dititipkan ketempat penitipan yang ada disekitar Porong dan setelah lepas dari kemacetan untuk selanjutnya mereka akan naik bis ketempat tujuan. Begitulah yang terjadi setiap harinya.
Begitu juga dengan angkutan kereta api, menjadi alternative yang tepat untuk menghindari kemacetan.

Aku tidak tahu, sampai kapan kemacetan dan keruwetan urusan Lumpur ini akan selesai. Yang aku tahu, saudara – saudaraku para korban luapan Lumpur Lapindo ini masih menuntut mendapatkan haknya.
Semoga mereka akan secepatnya mendapatkan haknya dan mereka bisa dengan segera membangun kehidupannya lagi dengan keluarga dan pendidikan yang layak bagi anak – anaknya.
Semoga juga pemerintah dengan dibantu instansi dan LSM – LSM terkait bisa dengan segera mengatasi hal ini, juga pembangunan sarana jalan yang memadai agar roda perekonomian bisa berjalan dengan lancar. Karena jalan Raya Porong adalah jalan utama yang menghubungkan Surabaya dengan kota – kota lain seperti Malang, Jember, Probolinggo dan Banyuwangi.

Good luck Mr. Government…..

Posted by Yudie at 3:06 PM  

0 comments:

Post a Comment