RI-64
Custom Search

SUMBU PENDEK

Tuesday, May 26, 2009

Istilah yang dipakai untuk menggambarkan orang yang gampang sekali tersulut emosinya, gampang meledak amarahnya, temperamental, dsb. Heran juga, kenapa ya dijuluki atau diberi istilah Sumbu Pendek ?
Mungkin karena begitu gampangnya amarah meledak, maka diistilahkan seperti petasan yang mempunyai sumbu pendek, begitu disulut langsung meledak..hhmm..menarik.

Dan “Sumbu Pendek” ini sekarang telah menjadi suatu budaya, kebiasaan, attitude bangsa kita tercinta ini yang dulunya sangat dikenal dengan keramah tamahannya, sopan santun, teposeliro, musyawarah, gotong royong dan sebagainya. Hal kecil yang semestinya bisa dipecahkan bersama dengan kepala dingin dan berdiskusi malah menjadi ajang tarik urat leher, bentrok fisik dan anarkis. Sungguh menyedihkan.

Apakah yang sebenarnya terjadi?
Mungkin tatanan kehidupan sosial kita ini telah terjadi keretakan-keretakan, sehingga menimbulkan reaksi masyarakat yang bermacam-macam.
Menipisnya tingkat kesabaran masyarakat atau sebagian masyarakat seperti ini umumnya dipicu oleh kemiskinan. Memang kemiskinan tidak semerta-merta membuat seseorang menjadi jahat, tapi akan mudah memicu orang menjadi jahat. Kemiskinan akan mudah menggoda seseorang menjadi kalap, rapuh, putus asa, kehilangan harapan.
Jika seorang miskin tetapi memiliki kekuasaan, maka ia akan mudah tergoda untuk menyalahgunakan kewenangannya.
Jika seorang miskin tetapi memiliki keberanian, maka ia akan mudah tergoda untuk melakukan kejahatan.
Dan jika seseorang miskin dan tidak memiliki kekuasaan serta keberanian, maka ia akan mudah tergoda untuk bunuh diri – putus asa.

Masyarakat juga dengan mudahnya membakar seorang pencuri ayam, pencuri motor, pencopet, penjambret yang tertangkap hanya untuk menumpahkan kekesalan. Tanpa belas kasihan dan kemanusiaan mereka menghakimi sang penjahat, tanpa ampun. Sumbu pendek akhirnya menjadi penyebab terbunuhnya sang pencuri, penjambret ataupun pencopet tersebut sebelum diadili oleh yang berwenang, tragis...
Tetapi bagaimana dengan koruptor ? hehhe gak nyambung yaaaaa… ?

Atau, mudahnya timbul gesekan – gesekan diantara kelompok masyarakat seperti yang sering kita baca di koran-koran ataupun kita lihat tayangan di televisi. Bentrokan antar kampung yang penyebabnya hanyalah hal sepele, seperti senggolan ketika asik berjoget dangdut ataupun senggolan kendaraan dijalan. Gesekan yang awalnya ditimbulkan oleh 2 orang ini yang semestinya bisa diselesaikan dengan damai akhirnya merembet menjadi bentrokan 2 warga kampung….dduuuhhh…

Kalo membahas keributan dan anarkisme antar supporter sepakbola…aahhhh…bosan..udah sering terjadi dan benar-benar memalukan. Kalau mengutip umpatan Didier Drogba (Chelsea) “f…...g disgrace”.

Belum lagi pada kelompok yang edukatif seperti mahasiswa (sorry neh kawan-kawan mahasiswa…) yang notabene adalah calon pemimpin bangsa ini. Sudah menjadi rahasia umum dan sudah menjadi berita utama di media seringnya terjadi bentrokan antar mahasiswa yang diakibatkan oleh kesalahpahaman kecil. Sungguh sebenarnya adalah hal kecil yang mestinya bisa diselesaikan secara musyawarah, dibicarakan dengan baik-baik.

Bagaimana dengan PilPres mendatang?
Semoga para calon pemimpin bangsa ini bisa menjadi contoh yang baik bagi rakyat, berpolitik yang baik dan sehat. Memberi pendidikan politik yang bermutu pada rakyat. Dan bukannya memberi pendidikan saling menjelekkan. Dari 3 pasangan calon pemimpin semuanya saling serang, menambah panasnya suhu emosi dimasyarakat pendukung. Apakah akan menjadi pemimpin yang amanah kalo bisanya cuma mengompori rakyat yang sudah sumbu pendek ini ? Bingung deh jadinya akan milih pasangan mana… mending milih Tukul dan Budi Anduk aja kali yaaa bisa bikin ketawa… hihihihihhi…
Semoga pilpres-nya sukses dan aman sentosa, dan terpilih pasangan pemimpin yang amanah.

Oke deh kita kembali ke topik…
Mencoba menarik kesimpulan dari timbulnya budaya “Sumbu Pendek” ini pada masyarakat kita yang antara lain disebabkan oleh :

- Kemiskinan
Awal dari segala kejahatan selalu timbul dari hal yang satu ini. Orang akan gampang sekali terkikis imannya. Sangat urgen bagi pemimpin terpilih bangsa ini nantinya untuk segera mengentasnya.

- Pendidikan / Edukasi
Mutlak, perlunya pendidikan yang memadai, agar masyarakat terbebas dari kebodohan dan tentu saja akan membuka pikiran dan wawasan masyarakat sehingga tidak gampang menerima provokasi dari pihak - pihak lain yang tidak bertanggung jawab.

- Penguatan iman
Ini yang paling penting. Iman yang kuat tidak akan menggoyahkan kesabaran seseorang, sehingga dia akan mampu mengontrol emosi dan berpikir beribu kali sebelum berbuat hal yang merugikan orang lain
Kewajiban kita semua untuk bertanggung jawab pada pendidikan iman, terutama bagi anak cucu kita dan orang – orang terdekat disekeliling kita.

Ada tambahan? monggo...
Terakhir, salam damai blogger… peace..!!

Posted by Yudie at 12:09 PM  

18 comments:

mas Yudie, aku krg setuju klo dibilang kemiskinan itu awal kejahatan, dan membuat org terkikis imannya. Yg lebih tepat mungkin kemiskinan iman. Kekayaan juga sering memunculkan kejahatan tapi mungkin pemicunya adalah serakah, sedang org miskin pemicunya putus asa.
Yg terpenting menurutku adalah pendidikan baik intelegensi maupun moral (IQ dan EQ). Dgn memperbanyak kesempatan anak miskin utk meningkatkan pendidikan, maka kemiskinan keluarganya sekrg dan kelak bisa terangkat, sekaligus mencetak penerus bangsa yg berkarakter kuat.

Semoga pemimpin yg akan terpilih memperhatikan hal ini ya!

Fanda said...
May 26, 2009 at 2:33 PM  

yup... bener mbak Fanda... pendidikan yang bermutu dan memadai akan membangun bangsa ini..

Yudie said...
May 26, 2009 at 2:40 PM  

masya alloh, semoga hari esok lebih baik ya...

buwel said...
May 26, 2009 at 2:42 PM  

Hmmmm, sulit - sulit perlu baca lagi aku,
Semoga Bangsa ini menuju masa yang lebih baik :D

Cak Win said...
May 26, 2009 at 3:23 PM  

waduh mantef banet nih postingnya. ampe ga bisa coment.

Yang ta harapkan dari seorang pemimpin adalah bisa membawa bangsa ini ke arah yang lebih maju, berahlak, intelek, dan makmur.

kang dwi said...
May 26, 2009 at 4:38 PM  

Memang banyak hal yang bisa menyebabkan "sumbu pendek" mas.
Ngenes deh tiap dengar berita orang-2 yang nekad karena sudah tak mampu menjalani hidup dengan keterbatasan.
Semoga saja Indonesia akan cepat berubah ke arah yang lebih baik.
Amin...

reni said...
May 26, 2009 at 5:13 PM  

Apa ya tambahan dari saya, hm..pergulatan hidup. Biasanya pergulatan hidup yang kuat dan panjang akan menjadikan orang matang dalam sikap, mmeperpanjang sumbunya tadi. Tapi menurut sy lho. Nice posting mas Yudie. Sumbu pendek ini bnyk ya di sekitar kita, sebagian menyebutnya biang kerok, hehe.

Newsoul said...
May 26, 2009 at 6:26 PM  

oh gitu ya mas yudie

ajie said...
May 26, 2009 at 7:36 PM  

Benar mas yudie..,emosi kita kadang2 mengalahkan akal sehat kita..nice post..

Dinoe said...
May 26, 2009 at 8:28 PM  

Emosi sepertinya tak terkendalikan jika berhubungan dgn materi..,maaf mas, boleh nambah koment ya mas he..he..

Dinoe said...
May 26, 2009 at 8:30 PM  

Kalau orang seperti itu biasa juga di sebut bulu kucing di elus baru bisa naik. maksudnya tuh orang mesti selalu di sanjung

edylaw said...
May 27, 2009 at 3:12 AM  

mau tanya... beli sumbunya ke mana ya
beli aja yang panjang biar meledaknya lama

suwung said...
May 27, 2009 at 6:52 AM  

Kefakiran memang dekat dg kekufuran. Jadi mungkin bukan kemiskinan finansial,tp kemiskinan iman. Kita sering kali hanya mengedepankan sisi IQ dan EQ,tapi melupakan SQ yaitu sisi spiritual yang erat berhubungan dengan sikap tindakan dan perilaku.Semuanya ditujukan menjadikan seseorang yang cerdas bertanggung jawab dan mempunyai sikap yang baik. Keselarasan IQ,EQ dan SQ InsyaAllah akan menghasilkan generasi bangsa yang tangguh berkarakter

ajeng said...
May 27, 2009 at 8:25 AM  

aku ngikut aja deh, bingung mo komen apa..

anggaarie said...
May 27, 2009 at 9:52 AM  

Penguatan Iman, kedengerannya biasa banget tapi gue setuju... Penting. Soalnya orang2 bisa 'gelap mata' gitu salah satunya karena stress. BT di jalan, diputusin pacar, nelen batu (waduh)... Kan gampang banget bikin stress...

Jadi mari kita jalan-jalan ajaaaa... Melepas stress!!!

Neng Keke said...
May 27, 2009 at 11:53 AM  

tingkat stress dan kecapekan abis kerja gampang bikin aku marah :P

Penikmat Buku said...
May 27, 2009 at 12:50 PM  

mas, saya setuju sama Fanda, bahwa kemiskinan bukan awal dari kejahatan.
mungkin sebagai faktor pemicu.

mengenai Pilpres..seharusnya mereka2 yg sudah mencalonkan diri menjadi Capres dan Cawapres..sudah mengertilah untuk bersopan santun dalam berkampanye.
semoga siapapun Pres dan wapres kita nanti, bisa membawa bangsa ini ke arah yg lebih baik.
bukan malah ikutan menjadi Sumbu Pendek.

hidup MU..lah..apa hubungannya..hehe

May 27, 2009 at 4:21 PM  

wah saya terharu yang di tulis oleh om " sekarang telah menjadi suatu budaya, kebiasaan, attitude bangsa kita tercinta ini yang dulunya sangat dikenal dengan keramah tamahannya, sopan santun, teposeliro, musyawarah, gotong royong dan sebagainya. Hal kecil yang semestinya bisa dipecahkan bersama dengan kepala dingin dan berdiskusi malah menjadi ajang tarik urat leher, bentrok fisik dan anarkis. Sungguh menyedihkan"
top2 deh haha

joe said...
May 30, 2009 at 1:07 PM  

Post a Comment