RI-64
Custom Search

KEBIASAAN MEROKOK dan KESEHATAN

Monday, April 6, 2009


MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN

Tidak dipungkiri, slogan dan peringatan diatas adalah benar adanya. Dan sudah terbukti banyaknya penyakit yang diakibatkan oleh aktivitas merokok tersebut. Bukan hanya pada si perokok itu sendiri secara langsung, tetapi juga pada orang – orang disekitarnya secara tidak langsung.

ASAP rokok yang merupakan polutan bagi manusia dan lingkungan sekitarnya. Bukan hanya bagi kesehatan, merokok menimbulkan pula problem di bidang ekonomi. Di negara industri maju, kini terdapat kecenderungan berhenti merokok, sedangkan di negara berkembang, termasuk di Indonesia, malah cenderung timbul peningkatan kebiasaan merokok.

Menurut penelitian, ditemukan beberapa macam zat yang dapat menimbulkan penyakit akibat merokok, karena asap rokok yang dihirup seorang perokok mengandung komponen gas dan partikel. Partikel yang dibebaskan selama merokok sebanyak 5 x 109 pp. Komponen gas terdiri dari karbon monoksida, karbon dioksida, hidrogen sianida, amoniak, oksida dari nitrogen dan senyawa hidrokarbon. Adapun komponen partikel terdiri dari tar, nikotin, benzopiren, fenol, dan kadmium.

Dampaknya bagi kesehatan antara lain :
Pada paru-paru, dapat menyebabkan perubahan struktur dan fungsi saluran napas dan jaringan paru-paru. Pada saluran napas besar, sel mukosa membesar (hipertrofi) dan kelenjar mucus bertambah banyak (hiperplasia). Pada saluran napas kecil, terjadi radang ringan hingga penyempitan akibat bertambahnya sel dan penumpukan lendir. Pada jaringan paru-paru, terjadi peningkatan jumlah sel radang dan kerusakan alveoli.Akibat perubahan anatomi saluran napas, pada perokok akan timbul perubahan pada fungsi paru-paru dengan segala macam gejala klinisnya. Hal ini menjadi dasar utama terjadinya penyakit obstruksi paru menahun (PPOM).

Dikatakan merokok merupakan penyebab utama timbulnya PPOM, termasuk emfisema paru-paru, bronkitis kronis, dan asma. Hubungan antara merokok dan kanker paru-paru telah diteliti dalam 4-5 dekade terakhir ini. Didapatkan hubungan erat antara kebiasaan merokok, terutama sigaret, dengan timbulnya kanker paru-paru. Bahkan ada yang secara tegas menyatakan bahwa rokok sebagai penyebab utama terjadinya kanker paru-paru.Partikel asap rokok, seperti benzopiren, dibenzopiren, dan uretan, dikenal sebagai bahan karsinogen. Juga tar berhubungan dengan risiko terjadinya kanker. Dibandingkan dengan bukan perokok, kemungkinan timbul kanker paru-paru pada perokok mencapai 10-30 kali lebih sering.

Merokok juga berakibat bagi serangan terhadap jantung, terbukti menjadi faktor utama penyebab penyakit pembuluh darah jantung. Bukan hanya menyebabkan penyakit jantung koroner, merokok juga berakibat buruk bagi pembuluh darah otak dan perifer. Asap yang diembuskan para perokok dapat dibagi atas asap utama (main stream smoke) dan asap samping (side stream smoke). Asap utama merupakan asap tembakau yang dihirup langsung oleh perokok, sedangkan asap samping merupakan asap tembakau yang disebarkan ke udara bebas, yang akan dihirup oleh orang lain atau perokok pasif.

Telah ditemukan 4.000 jenis bahan kimia dalam rokok, dengan 40 jenis di antaranya bersifat karsinogenik (dapat menyebabkan kanker), di mana bahan racun ini lebih banyak didapatkan pada asap samping, misalnya karbon monoksida (CO) 5 kali lipat lebih banyak ditemukan pada asap samping daripada asap utama, benzopiren 3 kali, dan amoniak 50 kali. Bahan-bahan ini dapat bertahan sampai beberapa jam lamanya dalam ruang setelah rokok berhenti. Umumnya fokus penelitian ditujukan pada peranan nikotin dan CO. Kedua bahan ini, selain meningkatkan kebutuhan oksigen, juga mengganggu suplai oksigen ke otot jantung (miokard) sehingga merugikan kerja miokard. Nikotin mengganggu sistem saraf simpatis dengan akibat meningkatnya kebutuhan oksigen miokard.

Selain menyebabkan ketagihan merokok, nikotin juga merangsang pelepasan adrenalin, meningkatkan frekuensi denyut jantung, tekanan darah, kebutuhan oksigen jantung, serta menyebabkan gangguan irama jantung. Nikotin juga mengganggu kerja saraf, otak, dan banyak bagian tubuh lainnya.Nikotin mengaktifkan trombosit dengan akibat timbulnya adhesi trombosit (penggumpalan) ke dinding pembuluh darah.Karbon monoksida menimbulkan desaturasi hemoglobin, menurunkan langsung persediaan oksigen untuk jaringan seluruh tubuh termasuk miokard. CO menggantikan tempat oksigen di hemoglobin, mengganggu pelepasan oksigen, dan mempercepat aterosklerosis (pengapuran/penebalan dinding pembuluh darah). Dengan demikian, CO menurunkan kapasitas latihan fisik, meningkatkan viskositas darah, sehingga mempermudah penggumpalan darah. Nikotin, CO, dan bahan-bahan lain dalam asap rokok terbukti merusak endotel (dinding dalam pembuluh darah), dan mempermudah timbulnya penggumpalan darah.Di samping itu, asap rokok mempengaruhi profil lemak. Dibandingkan dengan bukan perokok, kadar kolesterol total, kolesterol LDL, dan trigliserida darah perokok lebih tinggi, sedangkan kolesterol HDL lebih rendah.Merokok terbukti merupakan faktor risiko terbesar untuk mati mendadak.Risiko terjadinya penyakit jantung koroner meningkat 2-4 kali pada perokok dibandingkan dengan bukan perokok. Risiko ini meningkat dengan bertambahnya usia dan jumlah rokok yang diisap. Penelitian menunjukkan bahwa faktor risiko merokok bekerja sinergis dengan faktor-faktor lain, seperti hipertensi, kadar lemak atau gula darah yang tinggi, terhadap tercetusnya PJK.Perlu diketahui bahwa risiko kematian akibat penyakit jantung koroner berkurang dengan 50 persen pada tahun pertama sesudah rokok dihentikan.Akibat penggumpalan (trombosis) dan pengapuran (aterosklerosis) dinding pembuluh darah, merokok jelas akan merusak pembuluh darah perifer. PPDP yang melibatkan pembuluh darah arteri dan vena di tungkai bawah atau tangan sering ditemukan pada dewasa muda perokok berat, sering akan berakhir dengan amputasi.

Merokok juga dapat menyebabkan serangan stroke. Penyumbatan pembuluh darah otak yang bersifat mendadak atau stroke banyak dikaitkan dengan merokok. Risiko stroke dan risiko kematian lebih tinggi pada perokok dibandingkan dengan bukan perokok.

Dalam penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat dan Inggris, didapatkan kebiasaan merokok memperbesar kemungkinan timbulnya AIDS pada pengidap HIV. Pada kelompok perokok, AIDS timbul rata-rata dalam 8,17 bulan, sedangkan pada kelompok bukan perokok timbul setelah 14,5 bulan. Penurunan kekebalan tubuh pada perokok menjadi pencetus lebih mudahnya terkena AIDS sehingga berhenti merokok penting sekali dalam langkah pertahanan melawan AIDS.

Kini makin banyak diteliti dan dilaporkan pengaruh buruk merokok pada ibu hamil, impotensi, menurunnya kekebalan individu, termasuk pada pengidap virus hepatitis, kanker saluran cerna, dan lain-lain.

Dari sudut ekonomi kesehatan, dampak penyakit yang timbul akibat merokok jelas akan menambah biaya yang dikeluarkan, baik bagi individu, keluarga, perusahaan, bahkan negara. Penyakit-penyakit yang timbul akibat merokok mempengaruhi penyediaan tenaga kerja, terutama tenaga terampil atau tenaga eksekutif, dengan kematian mendadak atau kelumpuhan yang timbul jelas menimbulkan kerugian besar bagi perusahaan. Penurunan produktivitas tenaga kerja menimbulkan penurunan pendapatan perusahaan, juga beban ekonomi yang tidak sedikit bagi individu dan keluarga. Pengeluaran untuk biaya kesehatan meningkat, bagi keluarga, perusahaan, maupun pemerintah.

Meskipun sudah dipasang “rambu – rambu” seperti perda tentang larangan merokok ditempat umum di DKI Jakarta ataupun baru-baru ini yang masih segar yaitu fatwa MUI tentang larangan merokok. Tetapi tetap saja masih banyak ditemui dijalan – jalan protokol ibukota seperti di Jl. Sudirman disekitar halte Benhil didepan Universitas Atma Jaya, halte Sarinah di Jl. Thamrin dan mungkin masih banyak lagi ditempat lainnya, orang dengan bebasnya menghisap batang putih berisi tembakau ini. Belum lagi didalam angkutan umum, sering juga dijumpai beberapa orang asyik menghisap rokok tanpa memperdulikan penumpang lain disekitarnya. Bahkan (ini yang asyik….) para wakil rakyat kita digedung megah sana di Jl. Gatot Subroto Jakarta dengan nikmatnya menghisap rokok pada saat sidang, celakanya…ditangkap kamera para wartawan…waahhh…luar biasa…

Jadi dimanakah posisi anda? Terus merokok…? Mengurangi.. ? berhenti..atau sama sekali tidak merokok..?
Hanya anda yang tahu jawabannya… :)

Posted by Yudie at 6:28 PM  

11 comments:

Saya seorang perokok kelas menengah.
Walaupun tahu bahayanya, tapi tetap merokok.

Bagaimanapun juga ini posting yang bagus untuk mengingatkan perokok seperti saya.

tikno said...
April 7, 2009 at 6:09 AM  

Memang rokok itu sangat jahat, dan bahayanya lagi sangat sulit bagi perokok untuk menghentikan kebiasaannya. Aku tumbuh dan besar di keluarga asma dan perokok (ibu asma dan ayah perokok). 2 hal yg bertentangan tp sulit dikompromikan. Sampai suatu saat ayahku benar2 berhenti merokok. Moga2 kali ini untuk selamanya.

Thanks mas Yudie postingnya, mungkin ada baiknya kalo lain kali disambung dgn tips2 berhenti merokok. Hehehe...ini ngasih PR yg ga ada awardnya. Cuma ide aja loh...

Fanda said...
April 7, 2009 at 11:03 AM  

merokok adalah penyakit sekaligus kebiasaan yang akan merusak mata. Mata apa? mata pencaharian, mata hati, mata jiwa dan mata2 yg laen hehehe... becanda mas :) makanya kao gak mau rusak mata STOP MEROKOK!!!

BLOG MOTIVASI SUKSES
http://motivasi-arif.blogspot.com

April 7, 2009 at 11:24 AM  

@tikno
suggest aja mas, kalo bisa sih dikurangi...demi kesehatan.. (heheehe...gak menggurui lho...)

Yudie said...
April 7, 2009 at 7:31 PM  

@Fanda
Sukur deh kalo bisa brenti mbak...
waahhh...aku harus survey nih untuk ngerjain PR dari mbak Fanda..
sip dah...aku kerjain ntar PR nya...promise...

Yudie said...
April 7, 2009 at 7:32 PM  

@BLOG MOTIVASI SUKSES
hihihih...bener Mas Arif..rokok emang merusak mata...

Yudie said...
April 7, 2009 at 7:34 PM  

berhenti merokok akan sangat efektif kalau itu dari kesadaran diri. artikel ini salah satu pemicu untuk segera sadar melepaskan diri dari pengaruh rokok. kata JK : lebih cepat, lebih baik :)

April 9, 2009 at 11:11 PM  

Setelah kena gejala Hipertensi 2 minggu yang lalu (140/100) saya akhirnya berhenti merokok :)
Harus disentil dulu mungkin ya :)

kang tatang said...
April 11, 2009 at 2:19 PM  

Alhamdulillah aq ngga merokok...

Yudi Akuntan said...
April 13, 2009 at 10:12 AM  

sebelumnya saya sempat menjadi perokok meski bukan seorang pe-candu benda batangan itu.

Saat masih berkecimpung di dunia jurnalistik, tuntutan profesi dan lingkungan yang cukup persuasif terhadap rokok, mau tidak mau pada akhirnya membuat saya menjadi seorang perokok.

namun, saat ini sudah sekitar setahun ini saya tidak lagi aktif merokok, meski kadang masih nyantel satu-dua batang saat ngobrol atau menghadiri hajata..

tapi, yang paling penting saya setuju dengan postingan anda. garis besar yang disampaikan sangat jelas, "merokok membahayakan kesehatan"...

donlenon said...
May 30, 2009 at 9:02 AM   May 5, 2010 at 3:58 PM  

Post a Comment